Mengenai Saya

Foto saya
Kami adalah sekumpulan siswa-siswi SMK AR-ROUDHOH yang mencintai Seni Teater dan Sastra

Senin, 14 Februari 2011

Membaca Bawah Sadar

Orang yang mempunyai mmimpi
Adalah: orang yang mempunyai keinginan,
Orang yang tak pernah bermimpi
Adalah: orang yang tidak pernah mempunyai keinginan.

Terkadang kami sempat putus asa dengan kericuan hidup kami yang sabana hari semakin mengenaskan tak seperti para tetangga yang selalu riang dengan lukisan indah didinding penjuru rumahnya. Kami hidup dengan sebuah kenaifan yang membelenggu di antara sisi ruang hidup kami.
Seorang ayah, ibu, dengan dua anak begitulah kami sampai sekarang berkumpul di antara gemuruh kemiskinan. Miskin harta, miskin tempat tidur, miskin tempat makan, miskin tempat memasak meski tak sering ada yang mau dimasak untuk mengisi busung perut kami, miskin kepedulian, dan miskin romantika hidup yang mesti riang kebahagiaan.
Kami seorang ayah yang sudah sakit-sakitan bekerja mengankut pasir saban hari demi sebutir nasi untuk keluarga kami yang menunggu dirumah. Kami makan dengan hasil jerih payah dengan tanpa peduli terhadap kesehatan kami hanya untuk bertahan hidup. Kami seorang ibu yang berkeliling menjual gorengan di setiap gang-gang perumahan. Dari gang I ke gang II dan terus kami memutari dengan penuh harapan gorengan kami terlahap habis. Kami makan dengan hasil gorengan yang dijual ibu setiap hari. Kami seorang anak yng tak punya ruang untuk bersekolah menjadi orang pintar, tak punya kesempatan untuk belajar, karna pintu tertutup buat kami yang tak mampu membayar demi sebuah ilmu pendidikan. Hah...tak ada kesempatan untuk menjadi pandai.
***
Kami adalah keluarga yang tak punya tempat untuk berteduh diantara membagi suka dan duka nestafa. Kami berada di sebuah gubuk dengan dibatasi kain-kain lusut hasil nemu di tempat pemuangan. Kami hidup diantara ada dan tiada. Tapi beruntungnya kami masih berkesempatan untuk bernafas. Saat anak-anak kami sakit karena kurangnya gizi dan masuk angina ketika mereka tidur, kami hanya bisa memberikan cerita tentang semangat hidup, bukan obat dokter yang disedukan dengan segelas air. Ya…kami tidur pada ruang yang tak layak ditempati sebagai manusia yang lebih sempurna dan mulya dari seekor babi.
Kami sering berimajinasi tentang uang yang berjuta-juta di tangan, tentang rumah mewah yang sebesar Griya Arta, tentang mobil mewah, tentang makanan yang nyaman. Ha…..tapi itu sebuah dongengan yang sering kita bangun seketika kita pulang dari tempat bekerja, dari menjual gorengan, dan dari hayal menjadi anak yang pintar dan dibanggakan oleh banyak orang. Kami adalah para pemimpi. Dan kami bekerja atas dorongan mimpi, kami hidup hingga malam ini karena mimpi yang tak pernah tuntas kami impikan bersama disaksikan cicak di gubuk dinding kami.
***
Pagi begitu jingga menyapa kami yang sedang bersiap-siap bekerja, kami yang sedang membungkus gorengan untuk dijajakan. Tersaut salam dengan suara yang lunglai didepan rumah kami "assalamualaikum" seakan bidadari mahkayangan datang menyapa kami. Ibu membuka pintu dengan saut "walaikumsalam" pintu terbuka seakan ada sublime yang membuat hati kami terisak bahagia "apakah benar ini rumahnya pak Surota" dengan senyum mengkesima dan mata yang menatap rapi "ia benar, ada apa Endhuk?"kami menyapa dengan sedikit rasa cemas,hawatir, gelisah, pokonya pikiran yang bercabang bagai akar kayu semek di belakang rumah kami "tidak ada apa haya saja saya mengantarkan surat dari Jakarta" "surat dari Jakarta" kami tak pernah merasa punya kerabat di Jakarta, teman dari Jakarta, urusan dengan orang Jakarta, dan kami tak tau Jakarta, hanya kami melihat indahnya Jakarta saat kami menonton TV punyaan tetangga. "apakah surat itu dari kejaksaan tinggi, dari polisi untuk menangkap kami karna kami tak layak hidup ditengah keindahan kota, atau kami mau dimusnahkan karena kami telah mengutori lenskap kota negeri ini, maksud kami negeri yang dihuni oleh para pendosa?" kami yang gelisah dengan surat di tangan wanita berpakaian rapi dan wajah yang dipolesi berbagai jenis prodak, entahlah kami tak tau menyebutnya."sebaiknya silahkan dibaca sendiri" dengan bijak dan penuh tulus wanita itu memberikan surat pada kami. Dengan tangan yang gemetar kami mengambil dan membaca secara bersama-sama dengan ayah, ibu, dan kedua anak kami. Kami mengeja tulisa di kertas berwarna putih itu "silahkan mimpi kalian jadikan sebuah realita ditengah impian selama ini kalian dongengkan" kami bingung dengan tulisan yang tertera di kertas putih itu. Di balik semua itu wanita yang berpolas bidadari mahkayangan itu menghilang tiba-tiba seperti hantu yang terlihat difilm-film horor. "apa maksud dari semuanya ini?" ayah bertanya dengan penuh kebingungan. Kami semuanya bingung, hingga lupa dengan pekerjaan kami, lupa dengan jualan gorengan yang sudah disiapkan untuk di jual hanya untuk memikirkan sebuah kebingungan, memikirkan wanita yang menghilang seketikan hanya kata yang tertulis “Selamat Anda Mendapatkan Rizki Berlimpah”.
***
Kebingungan yang terus melahap kami pagi itu tak ubahnya selayang pandang dari rasa letih kami. "sudahlah tak usah kita pikirkan, ini hanya permainan hidup orang miskin, kalian sering bermimpi tentang rumah sebesar Griya Arta tentang mobil mewah, tentang makanan yang nyaman maka, beginilah jadinya" ayah menyapa kebingungan kami "saya mau berangkat bekerja saja, mimpi terkabul karna bekerja. Orang bermimpi karena mempunyai cita-cita" demikian ayah yang bersosok pantang putus asa didalam gemilau hidup.
Kami bersiap-siap berangkat kerja, bersiap-siap menjajakan gorengan. Seketika setapak kaki berada di depan pintu rumah kami ada bungkusan plastik berwarna hitam besar yang menghalangi perjalanan kami, sempat kami tak acuh karena apalah arti sebuah plastik berwarna hitam, berapa meter kami melewati plastic warna hitam seakan ada yang membisikkan pada telinga kami untuk membuka isi dari plastic yang berada di depan pintu kami. Serentak kami mendekati plastic itu dan ibu membukanya dengan perlahan. Suatu yang tak pernah terduga sebelunya "ya Allah…." Teriakan panjang ibu membangunkan bayi Nasti tetangga yang baru saja melahirkan "ada apa?" saut ayah "lihatlah ayah, apa yang berada didalam plastic berwarna hitam ini!!" sebuah keajaiban yang tak terduga, bahwa ternyata bungkusan plastic itu tersimpan mimpi-mimpi kami selama berabat lamanya kami lamunkan, adalah plastic yang tersimpan rumah sebesar Griya Arta, mobil-mobil mewah, makanan-makanan mewah, dan semua yang kami impikan selama ini kini semuanya tersimpan rapi dalam plastic warna hitam itu. Wanita mesteri yang pergi tanpa pamit ia membuat kami hidup di atas puncak purnama keindahan. Hari ini kami bahagia dengan mimpi-mimpi kami. Impian dan mimpi adalah sebuah cita-cita yang akan hendak terujud. Keindahan dalam hidup adalah bermimpi hingga kami katakan padamu “janagnlah berhenti bermimpi dan mengujudkannya dalam sebuah kenyataan”.

Abracadabra.
Salam kami terucap padaMU
Dengan lebur nafas kami yang dulu terasing
Kembali menguak menyedui kamar-kamar pengantin.
Sujud kami adalah pesta puji rahmadMU yang
Munyuburkan sepenggal pengasih.
“Terima kasih kami ucapkan padaMU”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar