Percakapan pagi yang sembilu membuat raut bumi menjadi warna kelabu “tidak bisa mas, aku tidak bisa lagi berpacaran” hah....setelah kebingunganku yang kedua, masih saja aku bertemu denganmu. “mengapa engkau tidak mau menjalin tali kasih yang nikmat ini dik?” sapaku dalam buram “pokoknya enggak mas, enggak.....”serumu tak bisa lagi ditawar. Hihhhh.....edan betul,”tak mungkin engkau hidup sendiri, engkau pasti butuh seseorang yang bisa berbagi antara suka dukamu” menggerutu sautku tanpa peduli celoteh patennya. “mas..........”panjang sautnya “ia dik mengapa?” risau sautku. Seakan ada yang tersimpan dalam-dalam dari wanita dengan pola mata sipitnya ini. Jinak-jinak wajahnya seru sebauh kecewa yang terpendam dalam. “sungguh engkau hidup dalam singgamah berantai” hatiku terkontaminasi tiba-tiba, ada rasa untuk memeluknya, tapi yakinku wajah ini akan tertampar pilu tangannnya yang mendingin. Bincangpun kembali berlanjut “ada luka perih yang tak dapat aku lupakan sampai detik ini mas, luka yang merajam sukma, luka yang buatku menangis, luka yang berseri-seru, luka yang membuatku selalu hilang rasa, dan luka yang ingin mengakhiri hidup fanakku” pagiku menjadi gerah seakan matahari timur ingin kembali sembunyi dan kembali pada poros gelap tak berdaya mendengar seru-seru. Sebut saja gadis malang melintang. Beku kataku seakan masuk dalam kulkas dingin tak berudara, seakan bulu-bulu badanku rontok tertelan angin tanpa nama. “mengapa engkau tersipuh mas, maafkan mas....kamu tak boleh sedih karna gumamku, dan kamu tidak akan merasakan hal seperti ini. Percayalah aku bukan penular virus duka ataupun sedih, namun aku ingin bercerita walau semestinya tidak harus aku ceritakan” dosa seakan bertumpuk padaku hari ini saat aku membuatmu bercerita masa-masamu yang perih kembali kau ingat hari ini. Sungguh tak ada maksud untuk engkau bercerita tentang masa lalumu namun aku sunguh penasaran sampai engkau tidak mau mencari pasangan. Menurutku ini adalah hal yang mustahil bagi kita manusia yang telah di ilhamkan Tuhan untuk saling berpasangan.
***
Percakapan pendek namun menyisahkan ragam perih dan perihatin telah kita lalui selama 2jam lamanya. Tak terasa ceritamu membuatku lupa tentang apa yang sebenarnya ingin aku katakan padamu dari awal perjumpaan kita yang masih aku simpan, karna tak ada waktu yang pas untuk aku serukan padamu. Ini adalah masalah perasan dan yakinku engkau sudah bisa menebaknya dari mulai caraku menyapamu, caraku memandangmu, cariku mengajakmu makan dikantin, caraku mengajakmu main di mall, caraku membantumu mengerjakan tugas-tugas kuliah, caraku menjadi pahlawan saat kau terjatuh dari sepeda kemarin, caraku menuntunmu, dan caraku mendengarkan ceritamu hari ini. “apa yang sedang engkau pikirkan mas?” tak sadarku lamunda membuat hanyut dan sedikit lupa tentang engkau yang bercerita, dan tentang engkau yang melihatku dengan pola tarian sorga. “aduh, maaf dik, maaf....”sautku sambil mengusap liur yang jatuh tak terasa. “hiiiiii....masnya jorok ah!!” “emmm”candapun mulai kita bangun hingga tak ada lagi sedih yang merajam pagi perjumpaan ku denganmu. “mas,mas...kalau tidur sering keluar gituan ya???” “gak juga” sautku dengan wajah yang memirah “kenapa wajahmu memirah mas?” tanya dengan senyumnya yang mengembalikan terbit matahari pagi. Sebenarnya gadis ini adalah gadis yang super tomboy baik dari cara dia berpakaian, dia berbicara, dia berjalan, dan dia saat menyikapi sesuatu, namun hati yang sedang perih siapapun tidak bisa berbohong. “tidak apa-apa dik, santailah, tak usah engkau gundah!!”.
***
Sulit rasanya aku katakan sesuatu yang telah lama tersimpan rapi dalam cakrawala jiwaku selama ini. Aku tahu kalau dia sudah mulai bercanda dan sering hal serius malah dijadikan bahan untuk menyambung canda leluconnya yang sering disedukan pada teman-temannya dikampus. Kadang aku menyebutnya edan dan kadang aku menyebutnya orang yang tak bisa diajak serius. Sering juga membuatku kesal dan ingin menghajarnya saat ia cengengesan, namun ibu pabaku sering berkata “siapapun kalau itu adalah jenis kelamin perempuan, maka dia adalah orang yang lembut dan perlu diperhatikan” demikian itu yang membuatku betah bersamanya. Tidak hanya itu saat sendiri aku malah merindukannya. Aneh........
***
Hari ini aku tidak sukses mengungkapkan hal yang aku pendam. Sudahlah aku mencoba bersikap santai dan tidak gundah. Adapun aku juga masih baru mengenalnya dan engkau juga baru mengenalku. Bapa ibu berpesan “sabarlah untuk menunggu walau itu membosankan” meski bapa ibuku bukan seorang pujangga namun yakinku dengan sabda beliau. “mas kini aku sudah sampai waktu untuk pulang kerumah, sekalian mau bantu nenek untuk memasak” waktu yang terasa cepat, engkau telah mengahiri perjumpaan yang sangat bernostalgia ini. Gadis yang cuek namun ia terkadang menjadi seorang wanita yang semestinya “baiklah ku persilahkan engkau kembali keperaduanmu” sapaku walau tak tulus karna mata-mata masih tak puas memandangmu yang amboy “sampai jumpa kembali mas ku!!” “berhati-hatilah dik” lambai tanganmu melepas perpisahan dan kerinduan yang masih mewaktu. Sungguh saatnya aku mesti berkata jujur padamu, dan kini aku kembali pada pojok kamar untuk menciumi bau farfummu yang mungkin masih menyisa. “sampai berjumpa kembali gadis yang baru aku jumpai”.

gan....mbok y jgn gadis2 doank...
BalasHapusskali2 janda2 tua g2 gan...biar pernah nampang di blog....hehehe